geopolitical codes to see senkaku island problem

Geopolitical codes adalah asumsi strategis yang dibuat oleh pemerintah mengenai negara lain dalam merumuskan politik luar negerinya.[1] Geopolitical codes is a particular construction of ‘us’ and ‘them’.[2] Dalam hal ini, adalah sebuah cara berfikir (konstruksi pemikiran) dengan melihat diri sendiri dan ruang global dalam menentukan politik luar negeri yang cocok untuk dijalankan. Melihat diri sendiri dimaksud melihat potensi negara berdasarkan penentuan dua factor yakni wilayah/spasial/geografinya dan power yang dimiliki. Dimana power dalam realis, terdiri atas geografi, sumber daya alam, kemampuan industry, kesiapsiagaan militer, populasi, karakter nasional, moral nasional, kualitas diplomasi, dan kualitas pemerintahan.[3] Sedangkan melihat orang lain adalah melihat potensi yang dimiliki negara lain dalam skala internasional dan seberapa besar pengaruhnya terhadap negara. Codes disini merujuk kepada pendefinisian kepentingan negara, pengindetifikasian ancaman eksternal, rencana untuk merespon ancaman tersebut, dan justifikasi atau pembenaran terhadap respon ancaman.[4] Saya ingin mengangkat Australia sebagai contoh. Seperti pemaparan diatas bahwa dalam menentukan politik luar negeri, dilandaskan pada 2 hal pokok yakni konstitusi dan domisili dimana dia berada. Australia merumuskan dan memperjuangkan politik luar negerinya dengan memperhitungkan kondisi dan lingkungan dimana dia berada untuk diimplementasikan diluar negaranya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Australia secara geografis terletak pada tiga persimpangan antara Asia, Pasifik dan Oseania. Sedangkan disisi lain dia memiliki kultur yang berbeda dari ke-3 benua diatas. Oleh karena kedua hal diatas, politik luar negeri Australia kemudian didasarkan kepada:

  1. Protecting Australia’s security
  2. Pursuing trade and investment & economic cooperation
  3. Contributing of global security
  4. Contributing to the case of good international citizenship.

Salah satu contoh, bahwa factor wilayah atau geografis berpengaruh pada perumusan politik luar negeri ditandai pada poin pertama, disebabkan factor psikologis Australia yang berada pada lingkungan yang sangat berbeda dan faktor Ekstrimisme (ekspansi Soekarno ke seluruh Hindia Belanda) termasuk Australia, kemudian pasca PD II Australia yang diharuskan mandiri karena Inggris pada saat itu tidak bisa membantu. Faktor ini merupakan ancaman yang dirasakan oleh Australia sehingga dirasa perlu untuk membuat rencana polugri poin pertama ini. Kemudian sebagai respon terhadap ancaman ini, Australia menjalin kerjasama dengan membentuk aliansi dengan Amerika yang tadinya Fax Britanica ke Fax Americana ditandai dengan terbentuknya ANZUS Treaty. Kemudian dibentuk lagi aliansi pertahanan di ASIA TENGGARA yakni FPDA. Begitulah salah satu perumusan luar negeri Australia yang mewakili perumusan luar negerinya berdasarkan pertimbangan letak geografisnya dan power yang dimiliki oleh negaranya. Analisa lebih jauh mengenai geopolitical codes akan saya bawakan dengan melihat kasus sengketa Pulau Senkaku yang diklaim oleh 3 negara yakni Jepang, Cina, dan Taiwan. Dikhususkan kepada geopolitical codes Cina. Senkaku island ini berada disekitar timur Laut Taiwan,, sebelah Barat Okinawa, dan juga terletak pada Utara dari ujung Barat Daya Kep. Ryukyu di Laut Cina Timur. Pulau Senkaku ini merupakan pulau yang dekat dengan jalur pelayaran sibuk, memiliki kekayaan laut terutama kekayaan ikannya, dan disinyalir menyimpan cadangan gas alam dan minyak bumi. Mengapa Cina mengklaim Senkaku Island. Apa kepentingan dibalik sikapnya ini. Ancaman apa yang akan didapatkan serta bagaimana Cina merespon ancaman tersebut dan bagaimana keseluruhan hal diatas membentuk geopolitical codes China. Sejak berakhirnya PD II, kedua negara terlibat sengketa perbatasan di kepulauan Diaoyo (versi Cina) atau Senkaku (versi Jepang) wilayah laut Cina Selatan. Kepulauan ini semula merupakan bagian dari wilayah Cina. Namun akibat kekalahan Cina dalam perang terhadap Jepang di tahun 1895, kepemilikan kepulauan ini kemudian beralih kepada Jepang. Cina tidak pernah mengakui kepemilikan Jepang atas Kepulauan tersebut[5] Yang menjadi kepentingan Cina pada Pulau Senkaku adalah potensi minyak dan gas yang cukup besar diperkirakan sekitar 100 juta barel minyak. Cina sangat membutuhkan energy dalam jumlah besar untuk melaksanakan pembangunan ekonominya. Cina merupakan negara pengimpor energy terbesar didunia. Cina juga negara kedua terbesar setelah Amerika sebagai pengonsumsi energy minyak. Siapapun yang menguasai Laut China Timur, akan mengontrol militer dan maritime paling penting didunia. Yang menjadi ancaman Cina adalah Hubungan bilateral Jepang dan Amerika Serikat. Ketika kedaulatan Jepang yang sudah tentu berkaitan dengan militer terganggu, maka sudah pasti akan berhadapan dengan Amerika. Dalam hal ini, ketika strategi militer menjadi pilihan Jepang untuk mengamankan akses energy, maka kebutuhan pengembangan persenjataan menjadi keharusan. Apalagi baru-baru ini, Jepang mengadakan latihan militer bersama dengan AS. Disisi lain, saat ini Jepang juga telah mengambil langkah-langkah: 1) meningkatkan kemampuan air-refueling yang berguna untuk memperluas wilayah jangkauan operasi militer di kawasan selatan Jepang; 2) Melakukan peningkatan kemampuan (upgrade) terhadap pangkalan udara yang terletak di pulau-pulau di sekitar Kepulauan Senkaku; 3) Memperbesar armada militer angkutan udara; 4) Membentuk pasukan reaksi cepat (Rapid Deployment Force), dan; 5) Meningkatkan kemampuan (up-grade) sistem AEGIS angkatan laut. Hal ini kemudian menjadi ancaman terbesar bagi Cina dalam sengketa pulau ini. Antisipasi ancaman : Cina telah mengetahui ancaman dari klaim yang telah ia lakukan. Cina dan jepang sama-sama The Big Power di Asia. Jadi saat ini, untuk mengimbangi ancaman tersebut Cina melakukan pembangunan kekuatan militer dan menempatkan dia pada posisi kedua militer setelah Amerika Serikat. Kapal perang China siap tempur di gugusan kepulauan Beijing. Salah satu kebijakan yang telah China lakukan bercermin dari penangkapan nelayannya di Senkaku adalah Pemerintah Cina menekan serius pemerintah Jepang dengan melakukan manuver di bidang diplomatik, antara lain membatalkan kunjungan pelajar Jepang ke Cina, melarang atletnya ikut dalam kompetisi perlombaan di Jepang, dan yang paling jelas adalah menarik Dubes Cina untuk Jepang seminggu setelah kejadian.[6] mendorong demonstrasi anti Jepang, melarang ekspor logam bumi ke Jepang yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi tingginya. China juga menangguhkan hubungan diplomatic tingkat tingginya dengan Jepang. China sebelumnya juga telah menghentikan rencana perundingan soal eksplorasi bersama sumber minyak dan gas di Laut China Timur, menunda pembicaraan soal perdagangan batu bara, dan membatalkan negosiasi penambahan frekuensi penerbangan sipil di antara dua negara. Terakhir, China secara mendadak membatalkan undangan kepada 1.000 anak muda Jepang ke Shanghai Expo   Pembenaran/justifikasi terhadap respon ancaman tersebut: Cina dengan pertimbangan power besar yang dia miliki, sebagai raksasa ekonomi dan sebagai penyumbang terbesar ekspor logam bagi Jepang dan beberapa negara didunia juga diserta kemapanan militer yang ia miliki, akan memaksa Jepang untuk mmemikirkan kembali sikapnya dalam mempertahankan senkaku island dan sikapnya terhadap China. Ini dapat dilihat ketika China menhentikan eskpornya yang kemudian melemahkan ekonomi Jepang dan membuat pengusaha Jepang kalang kabut. [7] Cina juga saat ini telah mapan dari segi militernya sehingga kemungkinan untuk menghadapi Jepang sangatlah mungkin terjadi. Keseluruhan hal diataslah yang kemudian membentuk geopolitical codes Cina dalam sengketa pulau Diaoyou atau pulau Senkaku. ITulah contoh dimana pertimbangan geografi politik dapat melahirkan dan mnedefinisikan politik luar negeri sebuah negara.


[3] Drs. Frans Bona Sihombing. Ilmu Politik Internasional (Teori, Konsep, dan Sistem). Jakarta: Ghalia Indonesia. 1983. Hal. 111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s