IMF DAN BANK DUNIA (MALAIKAT/IBLIS)??? YOU DECIDE IT…

Ada harapan yang sangat besar oleh milyaran manusia diseluruh belahan bumi yang digantungkan pada 2 lembaga serangkai ini diawal pembentukannya. Yakni kedua lembaga besar tersebut dapat mengantisipasi kembalinya depresi ekonomi dunia seperti yang terjadi pada tahun 1930 an. IMF pada mulanya ditugaskan untuk memonitor nilai mata uang dan membantu mencegah krisis neraca perdagangan sedangkan Bank Dunia (World Bank) dimaksudkan untuk memberikan pinjaman guna membangun negara-negara yang hancur lebur akibat peperangan. Sejak saat itu sampai sekarang, posisi keduanya semakin kuat dan meluas seiring dengan perubahan peranannya.

Ada yang kemudian menarik di dunia internasional. Munculnya 50 YEARS IS ENOUGH sebagai jaringan kerja Amerika Serikat untuk keadilan Ekonomi Global yang didirikan pada tahun 1994, tepat ketika IMF dan World Bank memperingati 50 tahun pembentukannya, munculnya World Bank Bonds Boycott yang diluncurkan pada April 2000 patut untuk menjadi fokus perhatian kita. Mereka adalah contoh jaringan yang terlahir sebagai oposisi kedua lembaga tersebut. Anggotanya tersebar diseluruh dunia bahkan beberapa organisasi-organisasi di Amerika yang notabene merupakan penyumbang terbesar di IMF dan Bank Dunia seperti Buruh Komunikasi Amerika dan Federasi Pegawai Pemerintah Amerika adalah bagian dari mereka. Mereka ada untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan para navigator ekonomi diatas. Mereka ada untuk menyuarakan keluh kesah manusia diberbagai belahan bumi yang telah menjadi korban kerakusan dan ketamakan 2 raksasa ekonomi yang buas tersebut.

Berangkat dari fenomena diatas, maka ada apa dibalik janji-janji World Bank dan IMF? Dan mengapa timbul berbagai kecaman mengenai mereka?.

Realita yang ada, banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari tujuan ideal didirikannya kedua organisasi ini. Bantuan yang diberikan oleh mereka menjadi bumerang yang sangat mematikan bagi negara-negara berkembang terlebih negara miskin. Pinjaman yang diberikan oleh IMF & World Bank tidak diberikan gratis melainkan ada syarat yang harus dipenuhi oleh negara peminjam atau yang dikenal dengan SAP (Structural Adjusment Programme). Mekanisme inilah yang membuat banyak negara-negara peminjam semakin terpuruk keadaan ekonominya. Pemerintah dituntun untuk mengikuti keinginan ‘mereka’ yakni dengan menerapkan liberalisasi ekonomi, perdagangan bebas, deregulasi dan privatisasi.

IMF dan Bank Dunia ini adalah alat bagi negara-negara maju untuk memperlancar ambisinya menguasai perekonomian dunia. G7 dan negara-negara kaya adalah pembela kepentingan-kepentingan nasionalnya dan meyalurkannya melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Dewan Eksekutif IMF dan Bank Dunia. Mereka pula yang memiliki voting terbesar di IMF dan Bank Dunia, sehingga dalam pengambilan keputusan didua lembaga tersebut, didominasi oleh mereka. Inti usaha-usaha para anggota Dewan adalah membantu para investor mereka untuk menembus pasar asing dan memenangkan kompetisi dengan perusahaan-perusahaan domestic di pasar tersebut. Karena itu mereka mendukung IMF dan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman kepada negara-negara miskin dengan syarat, negara peminjam mengurangi rambu-rambu perdagangan (trade barriers) dan memotong subsidi-subsidi negara terhadap perusahaan-perusahaan domestic mereka. Kebijakan ini memungkinkan para investor asing dari negara-negara kaya lebih mudah memasuki pasar domestic negara-negara pengutang, sedangkan pemotongan subsidi akan memperlemah perusahaan-perusahaan domestic yang ada dalam menghadapi persaingan yang meningkat dari para investor. Sedangkan kita tahu bahwa perusahaan-perusahaan domestic pada negara-negara berkembang dan negara miskin hanya bisa memproduksi barang-barang dengan kualitas yang jauh berbeda dengan barang-barang luar negeri. Dikarenakan akses terhadap tehnologi yang sangat minim, dan juga modal yang diperlukan sangat besar. Sehingga ketika barang dari luar masuk kedalam dengan kualitas sama dan harga lebih murah, maka para konsumen lebih cenderung memilih barang dari luar yang kemudian melemahkan perusahaan domestic karena modalnya tidak kembali.

Sistem yang digunakan oleh IMF membuat keadaan Negara-negara peminjam tidak siap untuk liberalisasi tersebut dikarenakan kondisi perekonomiannya yang tidak sehat dan diambang kehancuran. Negara-negara maju sebagai penyumbang dana terbesar di IMF dan Negara yang mengintervensi sebagian besar kebijakan IMF berkeyakinan bahwa Negara-negara peminjam ketika melakukan liberalisasi ekonominya akan mencapai titik keseimbangan. Juga ketika melakukan privatisasi, yang sebagian besar badan usaha dikuasai oleh swasta dalam hal ini pihak asing. Dimana ketika kebijakan privatisasi dilakukan, maka arus financial akan berada dipihak asing sedangkan disisi lain Negara cuma mendapatkan sedikit bagian dari pihak swasta. Hal ini kemudian menimbulkan kesenjangan karena Negara tidak bisa mengintervensi kebijakan-kebijakan yang dibuat pihak swasta yang notabene sangat memberatkan kaum miskin yang tidak  bisa menjangkau fasilitas yang disediakan oleh pihak swasta ini.

Bank dunia & IMF, juga melemahkan kedaulatan negara. Layaknya seseorang yang memiliki utang, dia akan berkelakuan seperti anak yang baik. Banyak negara kemudian terlena karena peminjaman utang ini dan kemudian tidak menggunakannya sebaik mungkin, Akhirnya negara harus terus meminjam yang mengakibatkan IMF dan Bank Dunia semakin bebas dan merasa berwenang untuk mengatur kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh negara tersebut. Semakin meminjam semakin terjerat kedalam lingkaran setan.

Semboyan bank dunia “impian kami adalah sebuah dunia yang bebas dari kemiskinan”. Sungguh ironis!. Impian yang sangat ideal. Tapi Kenyataannya berbeda 180o. Dilapangan, tangan Bank Dunia inilah yang membantu pembangunan-pembangunan di negara-negara berkembang. Mulai dari pembangunan industry, jalan raya, dom, serta sarana dan prasarana lainnya. Akan tetapi,seiring dengan berjalannya proses tersebut, lagi-lagi ini adalah taktik negara sokongannya untuk mempermudah akses pada negara berkembang. Negara berkembang khususnya Indonesia yang notabene merupakan makanan sedap bagi negara-negara industry untuk memajukan ekonominya akan dibangunkan industry/pabrik dan kemudian jalan raya yang langsung berhubungan dengan industry tersebut serta dibuatkan peraturan bahwa yang boleh melintas ditempat itu hanyalah produk-produk milik negara yang membantunya. Hal ini sudah tentu banyak mendatangkan manfaat ke negara penyumbang dan mendatangkan sedikit manfaat bagi Indonesia dibandingkan banyaknya mudharatnya. Terlebih lagi, pembangunan yang dilaksanakan atas saran bank Dunia ini, tidak memperdulikan lingkungan. Akibatnya banyak pembangunan berujung pada perusakan lingkungan yang sangat fatal dan mengganggu aktivitas-aktivitas masyarakat,

Sungguh sangat memiriskan, karena pinjaman itu seharusnya untuk membawa kebermanfaatan tapi seiring dengan itu mengapa semakin banyak orang miskin dan gap antara miskin dan kaya keduanya semakin terjal. Sudah banyak kasus yang memperlihatkan siapa sebenarnya IMF dan World Bank. Dibuktikan pada kasus di beberapa negara Amerika Selatan, Afrika, dan juga Indonesia. Iblis/Malaikat kah mereka? You decide it….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s