CARTELS, INDUSTRIES AND INTEREST GROUPS

Cartel

Cartel adalah gabungan para produsen atau konsumen maupun keduanya dalam produk tertentu yang dibentuk untuk memanipulasi harga produk pada pasar dunia. Salah satu caranya adalah mengkoordinasikan batas produksi tiap-tiap anggota sehingga persediaan barang menurun, kemudian menimbulkan permintaan relative terhadap suatu barang. Contohnya OPEC. OPEC sebagai bentuk cartel mengilustrasikan masalah potensial yang terjadi dalam hal komoditas bersama (collective good). Para anggota dapat berbuat curang dengan melebihkan kuota produksi mereka dengan tetap menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi sebagai komoditas bersama. Apabila beberapa anggota melakukan hal ini, menyebabkan penurunan harga minyak dipasar dunia.  Saudi Arabia sebagai sebagai anggota dan produsen terbesar memiliki kontrol dalam memanipulasi persediaan untuk menentukan harga menjadi tinggi atau rendah—sebuah bentuk stabilitas hegemoni dalam cartel. Untuk merespon tindakan kecurangan tadi Saudi Arabia bisa mendorong naik kemerosotan yang terjadi dengan memotong jumlah produksinya, atau jika terlalu banyak anggota yang melakukan kecurangan pada quota, dapat menghukum mereka dengan membanjiri pasar dengan minyak dan menyebabkan harga menjadi turun.

Untuk merespon OPEC, dibentuk International Energy Agency (IEA) oleh mayoritas negara pengimpor minyak. Fungsinya untuk mengkoordinasikan kebijakan energy mayoritas negara industry—seperti penanganan cadangan minyak dalam kasus terjadi kekurangan pada pasar dunia—juga untuk menjaga harga minyak tetap rendah dan stabil. Cartel produsen-konsumen juga dibentuk. Disamping untuk menjaga harga agar tetap stabil, negara produsen dan konsumen menggunakan cartel sebagai  sarana untuk mengkoordinasikan permintaan dan penawaran global secara keseluruhan.

Secara umum, ide mengenai cartel berlawanan dengan ekonomi liberal karena cartel dengan sengaja melakukan usaha untuk mengganggu pasar bebas. Cartel tidak terlalu kuat untuk menentukan tingkat harga dunia secara keseluruhan; terlalu banyak produsen dan supplier yang ada, dan terlalu banyak barang substitusi yang dapat menggantikan barang yang terlalu mahal.

 

Kelompok Industri dan kelompok Kepentingan

Baik industri maupun aktor politik domestik lainnya, sama-sama ingin mempengaruhi pemerintah dalam kebijakan ekonomi luar negerinya. Bagi industri yang maju dan kompetitif, proposal yang diajukan adalah agar pemerintah mengadopsi kebijakan perdagangan bebas. Sebaliknya, industry yang ketinggalan oleh para pesaing globalnya mencoba meminta pemerintah untuk membatasi impor atau memberlakukan bentuk proteksi lainnya.

Beberapa hal yang dilakukan untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi luar negeri yakni lobbying, membentuk kelompok kepentingan, dan bahkan membayar sogokan. Contohnya, kebijakan pro pemerintah AS terhadap perusahaan tembakau AS yang ditentang oleh kelompok kesehatan. Dibanyak negara, industry dan pemerintah bekerja bersama secara aktif untuk mengembangkan perekonomian mereka dan mengeluarkan kebijakan sesuai kebutuhan industri. Kebijakan ini berlaku dimana satu atau dua industry sangat penting pada perekonomian negara.

Kelompok kepentingan lain lagi dengan industry. Mereka juga memiliki kepentingan utama dalam kebijakan perdagangan negara. Contoh kelompok lingkungan hidup AS. Beberapa industri penting dalam negosiasi perdagangan saat ini yakni Industri tekstil dan garmen, pertanian, hak atas kekayaan intelektual, dan sector jasa.  Hak atas kekayaan intelektual adalah hak dari pencipta buku, film, software computer, dan produk yang sama untuk menerima royalti ketika produk mereka terjual. AS banyak sekali memiliki konflik yang berkaitan dengan pembajakan software computer, music dan film mereka yang dengan mudah dan murah oleh negara lain digandakan dan dijual meskipun melanggar hak cipta, paten, dan merek dagang. Contohnya China, Taiwan. Untuk merespon hal tersebut, dibentuk World Intelectual property Organization (WIPO), yang mencoba untuk mengatur hukum hak paten dan hak cipta melewati batas negara. Tetapi sejak WTO mendirikan TRIPS (Trade-Related aspects of Intellectual Property Rights), banyak negara memilih menggunakan peraturan ini dimana kebijakan diambil jika semua negara anggota setuju. Sedangkan di WIPO menggunakan system voting. Perusahaan berusaha untuk memproteksi hak kekayaan inteletual pada konteks internasional tidak bisa mempercayakan pemberlakuan yang sama dalam konteks domestic. Masing-masing negara harus membawa pemerintahannya untuk mengemban hal ini, dimana mereka dapat menggunakan sumber daya sendiri. Dikarenakan kedaulatan negara adalah hal legal, konflik ekonomi internasional yang bersifat privat dengan mudah menjadi konflik  pemerintah ke pemerintah.

Selanjutnya adalah sektor jasa. Di sektor ini difokuskan khusus pada layanan perbankan, asuransi, dan layanan keuangan yang terkait. Perusahaan AS dan beberapa di Asia memiliki keunggulan komparatif dibidang ini. Industri lain yang cukup penting adalah perdagangan senjata, yang dioperasikan secara besar diluar bingkai transaksi komersial normal karena implikasinya terhadap keamanan nasional. Pemerintah negara industry ingin memproteksi industry senjata domestic mereka daripada menyandarkan diri pada impor untuk menjadi kuat serta lebih banyak dalam mengekspor.

Masalah yang akan saat ini gencar muncul adalah penyelundupan. Tidak peduli peraturan yang ditetapkan pemerintah dalam perdagangan, seseorang selalu berkeinginan untuk mendapatkan keuntungan dalam perdagangan. Barang-barang diimpor secara illegal bahkan dijual pada pasar gelap (black markets).

Negara berbeda memiliki kepentingan berbeda dalam memberlakukan kontrol politik terhadap perdagangan gelap. Dalam ekspor senjata illegal, negara pengekspor bisa saja mendapatkan keuntungan ekonomis dari perdagangan dan negara pengimpor mendapatkan akses persenjataan. Perdagangan gelap ini bahkan menciptakan konflik kepentingan pada negara-negara dan mengarahkan pada penawaran politik yang kompleks antar pemerintah, yang masing-masing melihat kepentingannya.

Dalam hubungan Internasional dewasa ini, segala sesuatunya apalagi yang menyangkut perdagangan, menjadi semakin rumit dan kompleks. Menurut saya, merujuk pada pembahasan minggu sebelumnya, interfensi pemerintah pada pasar sangat jelas terlihat dalam pembahasan sub bab ini yang jelas-jelas bertentangan dengan pahaman ekonomi Liberal. Dimana pemerintah secara aktif dan agresif memegang kendali perekonomian dalam interaksi di pasar internasional. Interaksi yang kompleks dalam pasai internasional juga mengakibatkan dibentuknya Cartel dalam hal ini adalah gabungan perusahaan-perusahaan yang bertujuan untuk monopoli dalam mengatur harga-harga. Pembentukan ini tidak terhindarkan lagi, dan wajar terjadi. Dalam cartel, kompetisi antara negara anggota menjadi berkurang karena tujuan utamanya adalah menetapkan harga dimana masing-masing dapat menikmati keuntungan yang sama.

Terkhusus menyoroti politik dumping yang dianut oleh China dan beberapa negara lainnya, merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memajukan ekonomi negara tersebut. Jadi wajar-wajar saja jika mereka mengcopy-paste bahkan produksinya lebih baik dengan harga murah, semuanya agar bisa bersaing pada pasar global. Pemanfaatan peluang oleh China inilah yang kemudian mengaburkan peraturan perdagangan. Menanggapi perdagangan senjata, bahwa kebanyakan negara ataupun kelompok industri melihat peluang yang besar dibidang ini untuk mencari kemakmuran. Tidak perlu jauh-jauh melihat negara lain, hal ini dicontohkan oleh beberapa negara yang sampai saat ini belum meratifikasi Konvensi Palermo (2000) sebagai bentuk penentangan terhadap kejahatan transnasional yang salah satunya adalah produksi dan perdagangan gelap senjata api, termasuk Indonesia. Mengapa demikian? Disinilah keadaan anarki berlaku. Dimana tidak ada satu negarapun yang bisa memaksa negara lain untuk mengikuti perjanjian yang diinginkan. Masing-masing memiliki ambisi yang kemudian mewujudkannya dengan cara berbeda. Apalagi melihat perdagangan senjata ini merupakan faktor yang dilihat penting dalam pemasukan atau penimbunan uang.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s