Stuck or move?

Jauh dari rumah dan keluarga, sudah. Lebaran tanpa keluarga, sudah. Makan sendiri, sudah. Sakit sendirian, juga sudah. Segala hal telah coba kulewati sendiri. Dan hasilnya memang terbiasa. Hal ini kujalani sejak masa-masa kuliah dulu. Hingga sampai saat ini merantau untuk mencari pekerjaan, semua kesendirian tadi tidaklah asing bagiku. Tiap harinya diselimuti rindu. Rindu keluarga, itu sudah pasti.

Ku pikir, setelah selesai kuliah, melewati rintangan skripsi, hidup akan lebih mudah untuk dijalani. Ku pikir, pengalaman merantau selama 4 tahun, sudah menjadi bekal yang cukup untuk berada di kota metropolit ini. But, that’s totally wrong. Kehidupan setelah kuliah semakin berat. Mungkin karena kita juga yang semakin beranjak dewasa maka tuntutan juga semakin besar. Kita mulai dibebani pikiran-pikiran tentang masa depan (karir, nikah, berkeluarga, melanjutkan pendidikan), dll. Karena saya terlahir sebagai anak pertama, yang kupikirkan tidak hanya itu saja. Adik-adik juga menjadi prioritas dalam benak ini. Beranjak dewasa, orangtua juga sudah mulai melepas anak sulung mereka. Yah, termasuk saya salah satunya. Masih terus teringat kata bapak “saatnya menentukan jalan hidupmu nak. Sekarang adik-adikmu yang harus lebih dipikirkan”. Mendengar kata itu, rasanya cukup sedih dan ciut. Terbiasa dengan keberadaan mereka sebagai orang-orang yang selalu mendukung utamanya dalam hal finansial, kini harus berdiri sendiri, berpijak dengan kaki sendiri, menafkahi diri sendiri, tanpa bantuan mereka.

Mendengar ucapan bapak, disitulah saya tersadar, sudah saatnya untuk berdiri sendiri tanpa topangan lagi. Telah tiba waktunya untuk menjadi penopang keluarga, menopang mereka, dan adik-adik. Egois, sudah seharusnya dikesampingkan. Meskipun kadang terselip rayuan manja untuk terus mengharap pada orangtua. Tapi ketika pikiran itu datang merayu, yang kuingat adalah kerja keras, usaha dan keringat orang tua yang harus mereka keluarkan demi anaknya, demi diriku.

Saat ini, harus kuakui masih agak bergantung pada mereka. Dalam hal pengambilan keputusan tentang masa depan, maupun dukungan finansial. Tapi namanya juga proses. Tak ada yang instan. Yang penting niat, kemauan, dan kerja keras yang didukung dengan doa orang-orang terkasih.

Pilihannya hanyalah stuck or move. And i choose “MOVE”. How about you?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s