Percakapan singkat dengan Saraujo

Indonesia is a great country

Yes”, kataku. Sambil memberi sedikit anggukan padanya sebagai tanda persetujuanku. Percakapan ini terjadi di sela-sela dinner semalam, saat saya menghadiri pertemuan UNICEF-CMO-dan perusahaan-perusahaan besar Indonesia dalam rangka pembahasan fokus perusahaan dalam perlindungan anak.

Saraujo adalah Brazilian, dan baru pindah ke Indonesia 2 bulan yang lalu, sebelumnya ditempatkan di Angola. Banyak hal yang menjadi bahan perbincangan kami sampai-sampai fokus harus terbagi dua antara makanan dan percakapan itu. Mulai dari pengalamannya di Angola, kehidupan anak-anak disana, bagaimana dia melihat Indonesia, dan pekerjaannya di UNICEF. Karena baru dua bulan di Indonesia, dia baru tau sedikit tentang keadaan negara ini. Jadi kupikir, tak ada salahnya memberitahukannya sedkit garis hitam negeri, dan kelamnya pendidikan di daerah terpencil.

Ada satu pernyataan yang sempat kuajukan ke Saraujo, yah, tentunya dengan keterbatasan komunikasi dalam bahasa asing yang ku miliki. Kira-kira seperti ini, “Saraujo, if you go to the rural areas around Indonesia, you’ll see a totally different quality of education than in Jakarta, there’s a BIG GAP”, sedikit menambahkan “i mean if you go to a village. From some village that i already visit, i found some general statement when i ask the childrens there about who is Indonesian President. And they even don’t know who is he. You see saraujo, it’s a general knowledge actually, and they even don’t know about it. They just know the name of their “Tetua/Kepala Desa”.

How about the quality of the teacher?”, Saraujo menanggapi. “If you see the quality of the students, you’ll find out how the teacher teach them”, kataku. Tiba-tiba meluncurlah kata-kata ini “I dont know Saraujo, i just feel that the government doesn’t care anymore about them. They REALLY, TOTALLY far from education access, and the government seems doesn’t know that they are exist. But they’re Indonesian, Saraujo.” Setelah kata-kata itu meluncur begitu saja, saya kemudian tersadar, dia bangsa asing, tak seharusnya menaruh harap padanya atau bangsanya.

Dari raut wajah Saraujo, bisa kutangkap bahwa dia ingin mengatakan ini “Why don’t you trust your government?”. Kami diam sejenak. Lalu Saraujo memulai lagi, “We really concern on education in Indonesia especially for the children. We encourage the government to take a lot of action regarding this side. Yap, UNICEF are there in each province of Indonesia of course. We help the province government. But we aren’t make them to be our main focus. Our main focus is the main government (Jakarta). Cause we believe that if we help the main government, it will help a lot of people too. It will help not only people in one village but of course, all Indonesia. Your government are still on progress.

Mendengar pernyataan Saraujo, dalam hati, saya menjawabnya “Kau tak tau saja sergio pemerintah Indonesia itu seperti apa” sembari mengutuk. Mereka takkan pernah mau tahu apa yang terjadi di daerah Saraujo. Mereka hanya menghabiskan waktunya membuat data statistik palsu untuk negeri ini, seolah mereka telah menghabiskan banyak waktu ke daerah untuk memeriksa kondisi yang sebenarnya. Mereka menghabiskan waktunya untuk membuang uang rakyat yang bukan haknya. Apa tau mereka kalau ada satu daerah di kepulauan Lampung sana, yang anak-anaknya bahkan sama sekali tak pernah tahu bagaimana bentuk ibukota provinsinya? Apa yang pemerintah lakukan untuk mereka Saraujo? NIHIL. Tak ada satupun usaha mereka memajukan daerah ini. Bahkan asumsiku, mungkin mereka tak tahu kalau kepulauan itu ada.

Ingin rasanya aku menceritakanmu cerita yang pernah kudengar juga dari teman volunteer yang juga peduli pendidikan anak, tapi belum saatnya. Dia satu komunitas yang sama denganku. Ketika dia sedang menjalankan kegiatan volunteeringnya disana, tepatnya di Kep. Pahawang, Lampung (ini pulau yang kuceritakan di atas), dia bertanya kepada seorang anak, “Kau mau jadi apa nantinya dek? Maksudku cita-citamu?” kira-kira demikianlah pertanyaannya. Adik itu jawab dengan santainya “Pengen jadi tukang bubur kak, supaya cepat naik haji”. See Saraujo. Apa kau tau maksud jawaban itu? Nontonlah tayangan Indonesia Saraujo. Mereka belajar dari tayangan-tayangan yang ada di tv. Termasuk dalam menentukan cita-cita mereka. Lihatlah, ada satu daerah yang tidak tahu Presidennya, tak pernah tau bagaimana bentuk ibukota provinsi mereka, apalagi ibukota negara, dan juga hanya punya cita-cita yang mereka dapatkan dari tontonan tv yang saat ini juga lebih banyak sinetron tidak mendidiknya. Tapi masih beruntunglah karena tv bisa masuk. Hah, itu juga karena kepentingan bisnis, tv bisa masuk sampai disana. Apasih yang tidak kalau bisnis? Tapi pendidikan yang sebenar-benarnya pendidikan, yang merupakan hak utama mereka, dikemanakan pemerintah? Saraujo, you said that they still running on their program. But in Indonesia movement is really important than just a programme, Saraujo.

Pemerintah kita terlalu terbiasa mengumbar janji yang mereka tahu takkan pernah mereka tepati pada rakyatnya Saraujo. Sekedar intermeso, ini juga identik dengan model pacaran. Pada awalnya indah dan manis, segala janji diumbar, segala pengorbanan diusahakan. Tak lama kemudian, ketika telah didapatkannya kepercayaan, seketika itu pula, janji yang dulu diucapkan menghilang entah kemana. Karena sudah digenggaman, apalagi yang perlu diusahakan olehnya? Pemerintah pun seperti itu. Setelah mendapatkan kepercayaan rakyatnya, rakyat diabaikan dan dilupakan. Apalagi? Tugas mereka ya hanya memenangkan kepercayaan rakyat saja dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

Tapi Saraujo, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya masih tetap percaya bahwa ada cinta yang sejati. Ada cinta yang akan melakukan pengorbanan bukan hanya sekedar mengumbar janji. Demikian pula dengan pemerintahan. Akan ada masa dimana kebobrokan pemerintah ini akan runtuh dan digantikan dengan sistem yang jauh lebih baik. Saat itu adalah saat dimana semua orang telah sadar bahwa sudah cukup untuk terus dibodohi. Saya masih tetap yakin kawan, meskipun saya tak tau apa kau meyakini hal yang sama karena kita berbeda latar belakang, tapi keyakinan itu ada jauh didalam sini (sambil menunjuk hati).

Saraujo, ada hal yang lupa ku katakan padamu semalam. Kalau sempat berkunjunglah ke daerah-daerah itu dan lihat sebenar-benarnya statistik yang lebih nyata.

Untuk teman-teman yang membaca ini, kita sudah mendapatkan pendidikan yang jauh lebih layak dibandingkan mereka yang berada di pulau-pulau terpencil ujung negeri ini. Tak ada salahnya memulai pergerakan untuk membantu mereka daripada hanya sekedar menunggu janji pemerintah yang selalu on progress tapi tak berwujud. Karena kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s